FLU BURUNG

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.1 Latar Belakang

Di Indonesia pada bualan Januari 2004 dilaporkan adanya kasus kematian ayam ternak yang luar biasa terutama di Bali, Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi), Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat. Awalnya kematian tersebut disebabkan oleh virus New Castle, namun konfirmasi terakhir oleh Departemen Pertanian kematian ternak tersebut disebabkan oleh virus flu burung (avian influenza). Jumlah unggas yang mati akibat wabah penyakit flu burung akibat wabah flu burung di 10 wilayah provinsi di Indonesia sangat besar yaitu 3.842.275 ekor (4,77%) dan yang paling tinggi adalah di provinsi Jawa Barat yaitu 1.541.427 ekor.Jawa Tengah merupakan satu dari delapan provinsi di Indonesia yang mempunyai kasus flu burung tinggi dan endemis yakni di kabupaten Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Kabupaten Semarang.

Boyolali masuk dalam wilayah endemis flu burung karena kematian unggas akibat wabah fu burung di Boyolali sejak 2004 hingga Februari 2006 mencapai 34.400 ekor burung puyuh dan 68% ayam kampung. Kematian pada unggas yang terjadi juga diikuti denggan kejadian flu burung yang menyerang manusia. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah data orang yang diduga terinfeksi virus flu burung sampai tahun 2006 sebanyak 9 orang dan 3 diantaranya meninggal dunia.

Wilayah di Boyolali yang dinyatakan wilayah endemis dan positif terdapat unggas yang mengidap flu burung diantaranya adalah wilayah kecamatan Andong. Di Kecamatan Andong terdapat empat peternakan, 2 peternakan ayam dan 2 peternakan burung puyuh. Pada awal maret 2006 ada satu warga yang meninggal karena terinfeksi virus flu burung, tepatnya di Kelurahan desa Senggrong. Desa Senggrong dengan jumlah penduduk sebanyak 3.252 jiwa dengan kepala keluarga sebanyak 649 dan 425 KK diantaranya memelihara unggas, mayoritas pekerjaan masyarakat Senggrong adalah petani dan 70% dari penduduk juga memelihara ayam/unggas dirumahnya. Di desa Senggrong sendiri juga terdapat peternakan burung puyuh yang lokasinya berada di tengah-tengah penduduk dan berada di dalam rumah.

A.2 Tujuan

           

BAB II

PEMBAHASAN

A. Flu Burung

images (1)

  1. 1.      Definisi

Penyakit flu burung atau flu unggas (bird flu atau avian influenza) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas, dalam hal ini ayam, bebek, burung, angsa, kalkun, atau unggas sejenis.

Sebenarnya penyakit flu burung adalah penyakit pada hewan (zoonosis). Akan tetapi, dalam perkembangannya virus penyebab penyakit ini mengalami perubahan pada struktur genetisnya (mutasi) yang mengakibatkan virus ini dapat ditularkan kepada manusia. Flu burung dapat menyerang seluruh bangsa atau benua dan menimbulkan pandemi dalam waktu 2-3 tahun.

Pada unggas ternak  atau  piaraan, infeksi oleh virus flu burung menyebabkan timbulnya dua bentuk penyakit, yaitu bentuk yang berpatogenisitas rendah atau kurang ganas (low pathogenic) dan bentuk yang sangat pathogen/ganas (high pathogenic). Bentuk penyakit yang berpatogenesis rendah atau kurang ganas dan tidak mematikan (Low Pathogenic Avian Influenza Viruses) hanya menyebabkan gejala ringan dan biasanya tidak terdeteksi. Penyakit ini ditularkan dari unggas pembawa virus flu burung ke unggas ternak yang rentan. Sementara itu bentuk yang sangat ganas atau mematikan (Highly Pathogenic Avian Influenza Viruses) menimbulkan gejala yang sangat hebat, mudah menular, dan menyebabkan penyakit pada organ-organ tubuh unggas.

  1. 2.       Penyebab

Penyebab flu burung adalah virus influenza A subtype H5N1. Virus influenza termasuk dalam familia Orthomyxoviridae.  Di bagian luar virus ini terdapat tonjolan tonjolan yang menentukan sifat sifat virus.

Gaya hidup masyarakat juga mendukung tingginya penularan flu burung yaitu masyarakat suka mencampur ayam itik dengan itik maupun hewan lain, kandang kotor, letaknya satu rumah dengan penghuni rumah dan hanya diberi batas dari papan, membiarkan unggas berkeliaran secara bebas. Fenomena seperti ini bisa menyebabkan resiko terjangkitnya penyakit flu burung dari unggas ke manusia.

  1. 3.       Karakteristik Virus

Dengan mengetahui karakteristik virus flu burung, kita dapat mengetahui cara virus H5N1 ditularkan dan cara mencegah penularannya . Adapun karakteristik virus flu burung (H5N1) adalah :

  1. Mudah berubah bentuk dan bermutasi
  2. Bertahan hidup di dalam air sampai 4 hari pada suhu 22 °C dan lebih dari 30 hari pada suhu 0°C
  3. Bertahan hidup lebih lama di dalam tinja atau tubuh unggas yang sakit
  4. Mati pada pemanasan 80°C selama 1 menit, atau dengan suhu 60°C selama 30 menit dan pada suhu 56°C selama 3 jam
  5. Mati dengan detergen, disinfektan (seperti formalin), cairan yang mengandung iodine (seperti betadine) serta natrium kalium hipoklorit (contohnya pemutih baju)
  1. 4.       Penularan Flu Burung
  2. Penularan Antar unggas

Penyakit flu burung dapat menular melalui udara yang tercemar virus H1N1 yang berasal dari kotoran unggas yang sakit. Penularan juga bisa terjadi melalui air minum dan pasokan makanan yang telah terkontaminasi oleh kotoran yang terinfeksi flu burung.

Dipeternakan unggas, penularan dapat terjadi secara mekanis melalui peralatan, kandang, pakaian ataupun sepatu yang telah terpapar pada virus flu burung (H5N1). Jalur penularan antar unggas di peternakan, secara berurutan dari yang kurang berisiko sampai yang paling berisiko, adalah melalui :

1.Pergerakan unggas yang terinfekssi (1%)

2. Kontak langsung selama perjalanan unggas ke tempat pemotongan (8,5%)

3. Lingkungan sekitar (tetangga) dalam radius 1 km (26,2%)

4. Kareta/lori yang digunakan untuk mengangkut makanan, minuman unggas (21,3%)

5. Kontak tidak langsung saat pertukaran pekerjaan dan alat-alat kerja (9,6%)

  1. Penularan dari Unggas ke Manusia

Penularan virus flu burung dari unggas ke manusia dapat terjadi ketika manusia bersinggungan langsung dengan unggas yang terinfeksi flu burung, atau dengan permukaan atau benda benda yang terkontaminasi oleh kotoran unggas sakit yang mengandung virus H5N1. Kasus flu burung banyak ditemukan di daerah pedesaan/ perkampungan ataupun pinggiran kota yang padat penduduknya. Di daerah semacam ini kebanyakan unggas yang dipelihara dilepas begitu saja atau tidak dimasukkan dalam kandang, bahkan terkadang menyatu dengan rumah. Dengan kondisi seperti ini sangat mungkin terjadi penularan dari unggas sakit ke manusia, karena di dalam kotoran unggas yang sakit terkandung banyak sekali virus H5N1.

  1. Penularan Antarmanusia

Sampai saat ini, penularan flu burung (H5N1) dari manusia ke manusia belum terjadi. Model penularan ini sangat mungkin terjadi meskipun tidak efisien, karena semua virus influenza mempunyai kemampuan untuk berubah-ubah secara genetis.

  1. Penularan dari Lingkungan ke Manusia

Secara teoritis, penularan ini dapat terjadi oleh karena ketahanan virus H5N1 di alam atau lingkungan. Penularan terjadi karena air yang terkontaminasi masuk kedalam mulut selama berenang (di danau atau sungai) atau  melalui penularan langsung ke mata atau lubang hidung akibat terpapar air yang terkontaminasi oleh kotoran unggas yang terinfeksi virus H5N1. Kotoran unggas, biasanya kotoran ayam yang digunakan sebagai pupuk, menjadi salah satu faktor risiko penyebaran flu burung.

  1. 5.      Gejala
  2. Jengger dan pial berwarna biru
    1. Perdarahan merata pada kaki yang berupa bintik-bintik merah atau sering terdapat borok di kaki yang disebut dengan kaki kerokan.
    2. Adanya cairan pada mata dan hidung sehingga terjadi gangguan pernapasan
  3. Keluar cairan jernih sampai kental dari rongga mulut
  4. Diare
  5. Haus berlebihan dan cangkang telur lembek
    1. Kematian mendadak dan sangat tinggi jumlahnya mendekati 100% dalam waktu 2 hari, maksimal 1 minggu
  6. Masa inkubasi sekitar seminggu
  7. Gejala Pada Manusia
    1. Didahului dengan masa inkubasi (masa masuknya virus sampai dengan timbulnya gejala sakit) yang berlangsung beberapa hari, umumnya 1-3 hari, pada anak-anak bisa sampai 21 hari
  1. Gejala Pada Unggas

Awalnya pasien menunjukkan gejala demam (suhu badan di atas 38°C) dan gejala mirip influenza , seperti sakit kepala, batuk, nyeri, pilek, nyeri otot, dan sakit tenggorokan. Terkadang ditemukan gejala diare, muntah, nyeri perut, nyeri dada dan mimisan atau pendarahan pada gusi.

  1. Beberapa hari kemudian timbul sesak napas, yang merupakan salah satu tanda terjadinya infeksi di paru-paru (pneumonia)
  2. Komplikasi akan terjadi bila pasien terlambat dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Adapun komplikasinya adalah gagal napas dan gagal multiorgan yang ditandai dengan gejala tidak berfungsinya ginjal dan jantung, sampai dengan sepsis dan bahkan kematian.
  1. 6.       Diagnosis
  1. Rapid Test

Alat ini berbentuk kotak plastic yang didalmnya terdapat kertas putih dengan kode C (control) dan T (test) yang sudah ditetesi antibody virus flu burung yang berperan mendeteksi antigen virus pada unggas terikat dengan antibody yang ada dalam kertas, sehingga akan memunculkan dua garis vertical pada area C dan T. Keuntungan metode ini adalah kecepatannya, karena kita langsung dapat mengetahui hasilnya.

  1. HI (Hemaglutinasi Inhibisi)

Alat ini untuk melihat antibody terhadap Hemaglutinin (H). Uji ini lebih sensitive dari pada rapid test dan cukup murah meskipun membutuhkan waktu lebih lama (sekitar 3 hari).

  1. AGP (Agar Gel Presipitation)

Alat ini untuk melihat antibodi terhadap Neuraminidase (N).

  1. VN (Virus Netralisasi)

Alat ini untuk mengetahui pembentukan antibody.

  1. Isolasi Virus
  2. PCR (Polimerase Chain Reaction)

Alat ini untuk memastikan adanya virus influenza A subtipe H5N1. Metode ini masih jarang digunakan pada hewan. Uji ini sebenarnya sensitive dan akurasinya tinggi, tetapi mungkin karena membutuhkan biaya mahal, sehingga jarang dipergunakan.

Pada manusia, selain pemeriksaan laboratorium diatas ada pula pemeriksaan laboratorium yang meliputi :

  1. Anamnesis tentang gejala yang diderita oleh penderita dan adanya riwayat kontak atau adanya faktor risiko, seperti kematian unggas secara mendadak atau unggas sakit di peternakan/dipelihara dirumah.
  2. Pemeriksaan fisik, seperti suhu tubuh lebih dari 38°C, napas cepat, dan hiperemi faring (faring kemerahan).
  3. Pada pemeriksaan laboratorium (darah) diperoleh leukopenia, limfopenia, trombositopenia ringan sampai sedang, dan kadar aminotransferase yang meningkat sedikit atau sedang, kadar kreatinin juga meningkat.
  4. Selain itu perlu diperiksa pula kadar ureum/kreatinin, kreatinin kinase, albumin/globulin dan analisis gas darah dengan tujuan untuk megetahui status penderita.
  5. Setelah dilakukan pemeriksaan radiologi dengan melakukan foto rontgen dada/torak didapatkan gambaran infiltrate yang tersebar atau terlokalisasi pada paru-paru. Hal ini menunjukkan adanya proses infeksi oleh karena virus dan bakteri di paru-paru atau yang dikenal dengan pneumonia. Gambaran hasil pemeriksaan radiologi menjadi indikator memburuknya penyakit flu burung.
  1. 7.      Pencegahan

Pencegahan penyebaran penyakit flu burung dapat dilakukan dengan menerapkan tindakan preventif/pencegahan terhadap unggas itu sendiri maupun manusia.

  1. Unggas

Prinsip dasar tindakan pencegahan, pengendalian dan pemberantasan flu burung pada unggas adalah dengan menerapkan hal-hal sebagai berikut.

1). Mencegah kontak antara unggas yang rentan dengan virus H5N1

2). Menghilangkan virus H5N1 dengan dekontaminasi/desinfektan

3). Meningkatkan kekebalan tubuh dengan vaksinasi

4). Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat dan bersih dan keperdulian adanya penyakit flu burung dilingkungan sekitar.

b. Manusia

1. Kelompok berisiko tinggi

Bagi kelompok berisiko tinggi (pekerja peternakan, unggas, pedagang atau yang bersentuhan dengan produk unggas diperlukan tindakan-tindakan seperti :

1). Selalu mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan setelah bekerja serta sebelum menyentuh makanan dan minuman

2). Menghindari kontak langsung dengan unggas yang sakit atau terinfeksi flu burung

3). Menggunakan alat pelindung seperti masker, baju kerja, kacamata, sepatu bot, ataupun sarung tangan karet tebal.

4). Imunisai/vaksinasi

2. Masyarakat umum

1). Menjaga daya tahan tubuh dengan memakan makanan bergizi dan  istirahat yang cukup

2). Mengolah unggas dengan cara yang benar, yaitu memilih unggas yang sehat (tidak terdapat gejala-gejala penyakit pada tubuhnya), memasak daging unggas sampai dengan suhu kurang lebih 80°C selama 1 menit dan pada telur sampai dengan suhi kurang lebih 64°C selama 4,5 menit.


 

  1. 8.       Pengobatan

Tata laksana pengobatan bagi penderita flu burung adalah rawat inap di rumah sakit pada ruang isolasi untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan yang sesuai, karena sifat penyakit yang ganas.

Penderita harus mendapatkan oksigen bagi sesak napasnya, cairan parentral (infus), obat antivirus, dan pengobatan lain yang diperlukan oleh penderita.

Sumber : dr. Cucunawangsih (Buku Flu Burung).

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s