Pencemaran Air Akibat Penambangan Emas dengan Air Raksa

  1. LATAR BELAKANG

Air merupakan komponen yang paling penting bagi kehidupan manusia. Air adalah kebutuhan utama bagi proses kehidupan di bumi, sehingga tidak ada kehidupan seandainya di bumi tidak ada air, namun air dapat menjadi malapetaka apabila tidak tersedia dalam kondisi yang benar baik kualitas maupun kuantitasnya. Dewasa ini, air menjadi masalah yang perlu mendapat perhatian, karena air sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari kegiatan manusia, salah satunya adalah kegiatan pertambangan. Salah satu kasus pencemaran air akibat kegiatan pertambangan adalah kasus pencemaran air di Sungai Ciliunggunung,Waluran, Kabupaten Sukabumi.

Kasus yang terjadi di daerah Sungai Ciliunggunung, Waluran, Kabupaten Sukabumi adalah pencemaran air akibat penambangan emas dengan menggunakan air raksa. Penambangan emas dengan menggunakan air raksa telah membudaya bagi masyarakat di daerah Sungai Ciliunggunung, Waleran, Kabupaten Sukabumi, metode ini dipilih oleh masyarakat karena air raksa dapat mempercepat  proses pencucian emas hingga sekitar satu jam saja, sehingga emas yang didulang banyak dalam waktu yang cepat. Namun tindakan yang dilakukan oleh masyarakat ini tidak diimbangi oleh kearifan dalam menjaga lingkungan. Pertambangan emas dengan menggunakan air raksa akan menyebabkan  air disekitarnya menjadi tercemar dan menurunkan nilai dan fungsi strategis air sungai yang dipakai masyarakat untuk memenuhi kebutuhan seharri-hari. Air raksa termasuk salah satu  logam berat dengan berat molekul tinggi. Dalam proses biologi logam berat dibutuhkan dalam jumlah sedikit, namun apabila zat tersebut terdapat  dalam jumlah yang  berlebih  dapat menimbulkan keracunan bagi tumbuhan, hewan dan manusia.. Masyarakat dan para penambang emas yang mengolah biji emas dengan menggunakan air raksa di perairan Sungai Ciliunggunung sebagian besar mengatakan bahwa gejala-gejala kesehatan yang sering timbul adalah penyakit penyakit seperti gatal-gatal,sakit perut, mual, muntah-muntah, demam, sesak napas, pusing-pusing, sakit kepala, maag, tangan sering kesemutan dan mudah lupa.

  1. PERMASALAHAN

Sungai Ciliunggunung yang berada di daerah Waleran Kabupaten  Sukabumi merupakan sumber daya air yang memiliki manfaat sangat besar. Salah satu manfaatnya adalah sungai ini dijadikan ladang usaha bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan sungai tersebut. Banyak masyarakat sekitar yang melakukan penambangan emas di sungai tersebut. Secara resmi aktivitas penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat tidak mendapat izin dari pemerintah, penambangan emas yang dilakukan oleh masyarakat sekitar Sungai Ciliunggunung bersifat liar.

tambang-emas-kontancoid1

Berdasarkan informasi yang didapatkan dari data sekunder faktor yang mempengaruhi masyarakat sekitar Sungai Ciliunggunung untuk melakukan aktivitas penambangan secara liar adalah :

  1. Tradisi

Masyarakat tradisional khususnya di daerah aliran Sungai Ciliunggunung sebagian besar mengandalkan mata pencaharian serta kegiatan hidupnya pada Sungai Ciliunggunung, antara lain untuk kegiatan mencuci, mandi, memasak, menangkap ikan bahkan melakukan kegiatan penambangan emas. Mereka mengangga bahwa semuanya itu merupakan hak milik mereka dan merupakan hak bagi mereka untuk melakukan kegiatan dalam bentuk apapun.

  1. Wilayah Pertambangan Rakyat kosong

Sampai saat ini di daerah Sungai Ciliunggunung, Waleran Kabupaten Sukabumi belum ada wilayah pertambangan rakyat yang ditetapkan untuk masyarakat melakukan aktivitas penambangan emas.

  1. Multi krisis

Adanya perkembangan zaman, baik melalui televise dan media elektronik lainnya menyebabkan keingintahuan masyarakat akan sesuatu hal yang baru menuntut mereka untuk dapat meraih atau memperolehnya.

  1. Sempitnya lapangan kerja

Kondisi tingkat pendidikan masyarakat di daerah Sungai Ciliunggunung yang rata-rata hanya tamat SD, SMP dan SMA untuk saat ini sangat sulit bagi mereka untuk memperoleh pekerja yang mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka.

  1. Cukong

Adanya sekelompok orang yang membantu masyarakat yang tidak mampu dalam pengadaan sarana atau alat-alat untuk melakukan kegiatan penambangan emas. Secara tidak sadar masyarakat telah diperalat dengan bentuk pembagian keuntungan.

  1. Backing

Adanya pihak-pihak tertentu atau sekelompok orang yang melindungi kegiatan penambangan tanpa izin dengan jaminan keamanan dan penyediaan peralatan serta pembelian hasil emas.

  1. Instan

Masyarakat menganggap bahwa dengan melakukan kegiatan penambangan emas pasti akan membuat mereka mendapatkan segalanya dengan cepat atau cepat kaya.

  1. Teknologi

Ditunjang dengan teknologi yang cukup modern , mendorong masyarakat berlomba-lomba membeli alat-alat atau sarana penambangan yang modern dengan harapan mendapatkan keuntungan atau emas yang lebih banyak.

Penambangan emas  di sekitar Sungai Ciliunggunung  dilakukan dengan metode amalgamasi cara langsung yaitu dengan memasukkan secara bersama-sama bahan/material yang digunakan (bijih emas,media giling, kapur tohor, air dan air raksa pada awal pengolahan, sehingga air raksa yang digunakan cepat rusak menjadi butir-butir kecil karena air raksa mendapat tekanan/gesekan antara media giling dengan media giling atau antara media giling dengan dinding bagian dalam tabung amalgasi. Air raksa yang rusak menjadi butir-butir kecil pada gilirannya akan mengurangi daya ikat terhadap emas, sehingga menghilangkan air raksa yang cukup banyak sewaktu dilakukan pemsahan amalgam (perpaduan antara air raksa dengan emas) dengan ampas hasil pengolahan melalui pendulangan.  Penggunaan air raksa bertujuan untuk memisahkan komponen lain (puya, yang terdiri dari silikon dan pasir. Mendulang dan mencuci untuk mendapatkan emas butuh waktu yang cukup lama, disamping melelahkan dan butuh pengalaman/keahlian, itulah sebabnya masyarakat di daerah Sungai Ciliunggunung memilih menggunakan air raksa atau merkuri (Hg). Meskipun harganya mahal (sekitar 300 ribu atau lebih per ons), tetapi mempercepat proses pencucian emas hingga sekitar satu jam saja. Penggunaan air raksa sebagai bahan untuk mengikat dan memisahkan biji emas yang tidak dikelola dengan baik akan membawa dampak bagi penambang emas maupun masyarakat sekitar lokasi penambangan emas tanpa izin, dimana air raksa yang sudah dipakai dari hasil pengelolaan biji emas dibuang begitu saja di badan sungai dan konsekuensinya badan sungai menjadi tempat penampungan yang kemudian juga akan berdampak pada buruknya kualitas air di Sungai Ciliunggunung karena air sungai tercemar. Sungai yang tercemar oleh limbah air raksa ini  berdampak pada terganggunya kegiatan sehari-hari masyarakat yang awalnya menggunakan air Sungai Ciliunggunung untuk minum, mencuci, dan membersihkan diri, selain itu pencemaran air oleh limbah air raksa ini mengakibatkan terjadinya ketidak seimbangan ekosistem sungai. Banyaknya kandungan air raksa pada air limbah akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya. Selain itu kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun yang juga menyebabkan kerusakan pada tumbuhan air, serta air raksa pada air limbah dapat  mengkontaminasi ikan dan makluk air lainnya, Selanjutnya ikan-ikan  kecil dan makluk air lainnya akan dimakan oleh ikan-ikan atau hewan air lainnya yang lebih besar. Ikan-ikan dan hewan air tersebut kemudian dikonsumsi manusia sehingga manusiapun dapat mengumpulkan air raksa dalam tubuhnya. Tercemarnya air oleh air raksa akan menimbulkan dampak negatif bagi derajat kesehatan masyarakat. Keracunan air raksa pada manusia akan menimbulkan gejala-gejala kesehatan seperti sakit kepala, sukar menelan, penglihatan menjadi kabur, daya dengar menurun, selain itu orang yang keracunan air raksa merasa tebal di bagian kaki dan tangannya, mulut terasa tersumbat oleh logam, tingkat keracunan lebih lanjut dapat menimbulkan gejala pada susunan saraf pusat (SSP) seperti kelainan kepribadian dan tremor, pikun, insomnia, kehilangan kepercayaan diri, depresi dan rasa ketakutan; gejala gastero-intestinal (GI) seperti stomatitis, sakit ketika mengunyah, timbul garis hitam pada gusi dan gigi yang mudah melepas; kulit dapat menderita dermatitis dan ulcerasi, pencemaran air oleh air raksa apabila dikonsumsi dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan cacat bawaan pada bayi yang  berada dalam janin.

  1. PENYELESAIAN
  1. 1.      Tindakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi
    1. Pemerintaha Kabupaten Sukabumi teleh membuat kebijakan berupa peraturan daerah nomor 13 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pertambangan.
    2. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupeten Sukabumi telah melakukan pemantauan pencemaran air raksa (Hg) di Sungai Ciliunggunun, Waluran, Sukabumi secara berkala yaitu delapan kali dalam setahun dalam rangka meminimumkan timbulnya dampak pencemaran lingkungan akibat pengolahan bijih emas metode amalgamasi langsung.
    3. Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Sukabumi  juga telah melakukan sosialisasi mengenai pengolahan biji emas dengan dengan metode amalgamasi cara tidak langsung yang terdiri dari tiga tahap proses yaitu (1) Desliming yaitu tahap menghilangkan partikel halus (slime) yang menempel pada permukaan bijih emas yang akan digunakan sebagai umpan dalam pengolahan dengan cara pencucian. (2) Grinding yaitu tahap penghalusan ukuran bijih emas dan (3) Tahap amalgamasi itu sendiri, meskipun metode amalgamasi cara tidak langsung ini sudah disosialisasikan kepada masyarakat Waluran yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai penambang emas di Sungai Ciliunggunung, tetap saja masyarakat menggunakan metode amalgamasi secara langsung, hal ini dikarenakan masyarakat mengganggap penambangan emas dengan metode amalgamasi tidak langsung tidak praktis dan memerlukan waktu yang lebih lama
    4. Solusi yang Ditawarkan dalam Menangani Pencemaran Air Raksa
      1. Pemerintah daerah harus menetapkan secara resmi wilayah pertambangan rakyat.
        1. Selain Peraturan daerah tentang Pengelolaan Pertambangan Pemerintah derah perlu membuat peraturan daerah mengenai Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian pencemaran air.
        2. Melakukan kegiatan penyuluhan dan sosialisasi tentang penertiban penambangan emas dengan menggunakan air raksa melalui petunjuk-petunjuk tata cara penambanagn dan pengolahan biji emas  dengan menggunakan air raksa yang benar dan dampak penting dari penggunaan air raksa dalam kegiatan penambangan emas.
        3. Membuat waduk kecil yang disebut dengan embung sebelum pembuangan akhir (sungai  atau laut). Embung tersebut harus dijadikan sebagai muara buangan air limbah pertambangan rakyat sehingga terkonsentrasi pada satu tempat. Pada embung tersebut ditumbuhkan eceng gondok yang akan mengadsorpsi logam berat yang terlarut didalamnya. Sebagai pengolahan akhir sebelum dibuang ke pembuangan air dapat digunakan saringan karbon aktif untuk mengadsorbsi kandungan sisa yang belum dapat di absorbsi oleh eceng gondok. Saringan karbon aktif memiliki resolusi/derajat pemisahan yang sangat tinggi sehingga menjamin kandungan logam berat sangat rendah. Karbon aktif secara sederhana dapat dengan mudah dibuat dari arang melalui proses aktifasi dapat dijadikan karbon aktif melalui aktifasi fisik dengan pemanasan pada temperatur 600-800 °C selama 3-6 jam.

DAFTAR PUSTAKA

Widodo, 2008, Pencemaran air raksa (Hg) sebagai dampak pengolahan bijih emas di Sungai Ciliunggunung, Waluran, Kabupaten Sukabumi, Jurnal Geologi Indonesia Vol. 3( 3):  139-149.

Heriamariaty, 2011, Upaya Pencegahan dan Penanggulangan Pencemaran Air Akibat Penambangan Emas di Sungai Khayan, Mimbar Hukum Vol 23 (3): 431-645.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s