PERAN PRIA DALAM KESEHATAN REPRODUKSI

BAB I

DESKRIPSI KASUS

Seorang ibu rumah tangga yang saat ini sudah berusia 43 tahun. Ia sudah menikah sebanyak dua kali. Pada pernikahan yang pertama, wanita ini berusia 28 tahun, akan tetapi selama pernikahannya, ia tidak dikaruniai seorang anak. Akhirnya ia bercerai dan menikah kembali pada usia 30 tahun dengan seorang pria yang berbeda 3 tahun lebih tua darinya, yang saat ini sudah berusia 46 tahun.

Dengan suaminya yang sekarang, wanita ini akhirnya dikaruniai 3 orang anak. Yang pertama saat ini tengah duduk dikelas 7 SMP berusia 12 tahun, yang kedua sedang duduk dibangku SD kelas 2 berusia 7 tahun, dan yang terakhir baru berusia 10 bulan. Setelah kelahiran anaknya yang pertama, wanita ini menggunakan program KB dengan cara suntik. Begitu pula setelah kelahiran anak keduanya yang berjarak 5 tahun dari anak pertama, ia kembali memasang KB suntik dan melakukan kontrol 3 bulan sekali. Suaminya pun hanya mengantar sang istri kontrol pada KB suntik anak kedua ini. Akan tetapi, KB suntik ini kurang berhasil, karena wanita ini ternyata  pada usianya yang ke-42 justru hamil anak ketiga.

Atas saran dari dokter untuk tidak hamil lagi dan dikarenakan usianya juga yang rentan untuk hamil, ia akhirmya memutuskan untuk menggunakan program steril Ia memasang KB jenis ini atas izin dan persetujuan dari suaminya. Mereka juga telah membicarakan dengan matang keputusan untuk memasang KB jenis ini. Akan tetapi, sang suami tidak mau ikut memasang alat kontrasepsi pada dirinya dikarenakan ia merasa malas sehingga hanya istrinya saja yang KB.

Wanita ini memasang KB pada usia ke-43 disalah satu rs swasta disekitar tempat tinggalnya. Setelah 3 hari pemasangan KB, ia kembali lagi ke rs tersebut untuk ditarik benangnya saat pemasangan KB. Selama ia KB, ia memiliki keluhan seperti merasa ada yang mengganjal, meskipun begitu sang suami tetap menemani istrinya saat melakukan pemasangan KB.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Definisi Kesehatan Reproduksi :

Kesehatan reproduksi adalah suatu kondisi yang sempurna dari fisik, mental dan keadaan sosial (tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan dan kecacatan) dalam setiap persoalan yang berhubungan dengan sistem, fungsi serta proses reproduksi. Konsep dan definisi lainnya yang juga disepakati dan berkaitan dengan kesehatan reproduksi, yaitu kesehatan seksual, hak seksual, dan hak reproduksi.

Kesehatan reproduksi merupakan salah satu topik penting yang mendapat perhatian dari berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar negeri. Meluasnya liputan media massa sampai ke pelosok negeri yang menyajikan fakta seputar kesehatan reproduksi, baik positif maupun negatif mendorong pemerintah, perorangan, swasta dan lembaga swadaya masyarakat untuk mengambil peran aktif dalam menyosialisasikan sekaligus memberikan jalan keluar atas permasalahan kesehatan reproduksi (Immamah, 2009).

  1. Partisipasi pria dalam melakukan KB dan kaitannya dengan kesehatan reproduksi

Partisipasi pria dalam melakukan KB yang kaitannya dengan kesehatan reproduksi adalah tanggung jawab pria atau suami dalam kesertaan ber-KB, serta berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan dan keluarganya. Bentuk partisipasi pria atau suami dalam KB dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Partisipasi pria atau suami secara langsung (sebagai peserta KB) adalah pria atau suami menggunakan salah satu cara atau metode pencegahan kehamilan, seperti kondom, vasektomi, serta KB alamiah yang melibatkan pria atau suami (metode sanggama terputus dan metode pantang berkala).

  1. Tanggung jawab pria dalam kesehatan reproduksi.

Tanggung jawab pria dalam kesehatan reproduksi merupakan keterlibatan dan keikutsertaan ber-KB, kesadaran berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan dan keluarga. Penyebab utama rendahnya tanggung jawab pria dalam masalah KB dan kesehatan reproduksi adalah minimnya petugas kesehatan, tempat-tempat konseling, sedangkan konseling merupakan kegiatan strategis dalam membantu klien agar dapat dengan mantap membuat keputusan sendiri untuk mengikuti program KB dan kesehatan reproduksi dengan memakai salah satu jenis kontrasepsi pria yang disukai, sadar dan iklas mengantar isterinya dalam periksa kehamilan, imunisasi anaknya, mengikuti perkembangan pengetahuan, menjaga kesetiaan pasangan sehingga dapat terhindar dari penyakit seksual.mengenai masalah reproduksi, seks, serta tingkah laku seksualnya.

  1. Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pria

Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan partisipasi pria adalah dengan mengadakanpertemuan, orientasi dan advokasi dalam rangka meningkatkan pengetahuan, sikap dan kesadaran kesetaraan gender, mengembangkan tempat pelayanan KB pria yang berkualitas, penyediaan fasilitas pelayanan dan alat kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan dari pengelola, pelaksana, kader sebagai provider melalui orientasi dan pelatihan. Untuk Meningkatkan kesertaan KB Pria berarti merubah pengetahuan sikap dan perilaku dari yang sebelumnya tidak atau belum mendukung KB Pria menjadi mendukung dan mempraktekkannya sebagai peserta. Mereka yang tadinya menganggap bahwa KB adalah urusan perempuan harus bergeser ke arah anggapan bahwa KB adalah urusan serta tanggung jawab suami dan isteri (Henny, 2011).

Peningkatan partisipasi pria dalam ber KB dan Kesehatan Reproduksi merupakan bagian dari pelaksanaan hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi. Dalam hal ini termasuk pemenuhan hak-hak pria untuk mendapatkan informasi dan akses terhadap pelayanan KB yang aman, efektif, terjangkau, dapat diterima dan menjadi pilihannya. Serta metode pengaturan kelahiran lainnya yang tidak bertentangan dengan hukum, etika dan nilai sosial (Henny, 2011).

  1. Peranan Petugas Konseling

Penyebab utama rendahnya tanggung jawab pria dalam masalah KB dan kesehatan reproduksi disebabkan minimnya petugas, tempat-tempat konseling, sedangkan konseling merupakan kegiatan strategis dalam membantu klien agar dapat dengan mantap membuat keputusan sendiri untuk mengikuti program KB dan kesehatan reproduksi dengan memakai salah satu jenis kontrasepsi pria yang disukai. Persyaratan petugas konseling sebagai pemberi motivasi, penjelasan, nasihat, pendamping, pemantau dan mitra dalam pemecahan masalah harus mempunyai informasi yang lengkap, benar dan jujur, kesediaan dan minat menjadi petugas konseling, sabar, ramah dan terbuka menghargai pendapat orang lain, dapat membina hubungan dan menemukan kepercayaan klien dan tak kalah pentingnya memiliki keterampilan dalam berkomunikasi atau memberikan konseling sehingga dapat membantu klien memahami dirinya, hambatan yang ada pada dirinya dan bila diperlukan membantu dalam proses pembuatan keputusan melalui berbagai pertimbangan yang obyektif.

  1. Peran pria dalam kesehatan reproduksi

Ada beberapa peran pria atau suami terhadap kesehatan reproduksi istri antara lain:

  1. Peran suami pada masa sebelum istri hamil:
  • Merencanakan kelahiran anak berikutnya demi menjaga kesehatan dan keselamatan jiwa ibu dan anak.
  • Menentukan dan memilih alat kontrasepsi untuk pengaturan kelahiran bersama suami dan isteri konsultasi dengan para ahli medis. Untuk pria, pilihan alat kontrasepsinya terutama untuk fase mencegah dan fase menjarangkan kehamilan adalah kondom. Dalam ber KB, suami dan isteri mempunyai hak dan kewajiban yang sama dan setara.
  • Suami isteri memahami akibat sampingan dari metode kontrasepsi yang digunakan serta mengetahui tempat-tempat rujukannya.
    • Suami mempersiapkan biaya.
    • Suami merencanakan penolong persalinan dan tempat persalinan
  1. Peran suami pada masa ibu hamil antara lain:
  • Memberikan perhatian, perlindungan dan kasih sayang isteri yang hamil.
  • Menjaga kehamilan isteri agar sehat dengan cara menganjurkan agar isteri tidak melakukan pekerjaan berat, istirahat cukup, menjaga kebersihan rumah dan lingkungan. Suami harus memiliki pengetahuan praktis tentang masalah kesehatan reproduksi.
  • Menciptakan suasana yang menyenangkan bagi isteri.
  • Mendorong isteri untuk mengkonsumsi tablet besi, makan bergizi, dan mendapatkan immunisasi TT (tetanus toksin) sebanyak 2 kali selama kehamilan agar terhindar dari penyakit (tetanus) selama hamil.
  • Mengambil alih tugas rumah tangga dari isteri.
  • Memberikan perhatian tentang kesehatan isteri, mengajak memeriksakan secara teratur, dan menentukan tempat pelayanan persalinan yang aman.
    • Memberikan perlindungan terhadap isteri dari masalah aborsi, karena “kehamilan yang tidak diinginkan atau dikehendaki” dengan mengajak isterinya dengan KB (mengikuti program KB).
    • Memberikan perhatian tentang kesehatan isteri yang beresiko tinggi untuk memeriksakannya ke dokter atau bidan dan memilihkan tempat pelayanan persalinan yang aman. Kemudian merencanakan kehamilan berikutnya dengan cara ber KB, tidak memaksakan untuk mempunyai anak banyak.
    • Memahami bagaimana kerja sistem rujukan, serta menyadari bahwa kematian dalam persalinan dapat dicegah dan suami berperan untuk mencegah kematian.
    • Memberikan perhatian kepada isteri tentang perawatan kehamilan (perawatan kehamilan, cara merawat diri selama hamil, memakan makanan yang baik bagi ibu hamil, dan sebagainya).
    • Memberikan perhatian kepada isteri dengan mengenali tanda-tanda akan melahirkan, mempersiapkan diri menghadapi persalinan, tempat persalinan, langkah-langkah jika menghadapi kelainan waktu persalinan.
  1. Peran suami kepada ibu pada masa persalinan antara lain:
  • Mendampingi isteri saat melahirkan.
  • Memberikan dukungan moril.
  1. Peran suami pada ibu masa nifas antara lain:
  • Membantu kebutuhan isteri merawat diri dan balita (menyediakan air hangat, membantu membersihkan ruangan dan kamar tidur, menyiapkan, pakaian isteri dan balitanya).
  • Memenuhi kebutuhan makanan sehat dan bergizi bagi balita dan isteri.
  • Selalu menjaga agar isteri dan balitanya hidup bersih.
  • Menganjurkan agar anak balitanya diberi ASI selama 2 tahun.
  • Selalu memperhatikan isteri di masa nifas (hal-hal yang diperhatikan di masa nifas, dan perawatan tali pusat bayi).

Dengan demikian partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi dapat membantu mempertahankan dan meningkatkan kesehatan ibu hamil, merencanakan persalinan yang aman oleh tenaga medis, menghindari keterlambatan dalam mencari pertolongan medis, membantu perawatan ibu dan bayi setelah melahirkan, menjadi seorang ayah yang bertanggung jawab, menghindari dan mengakhiri kekerasan terhadap wanita, mencegah penularan HIV/AIDS, menjadi calon pasangan yang bertanggung jawab, memahami dan memberi ketenangan kepada isteri yang menopause, memahami dan mencari jalan keluar kepada keluarga infertil dan memahami serta memberi perhatian kepada keluarga lansia. Dengan meningkatkan kepedulian para suami terhadap KB dan kesehatan reproduksi akan meningkatkan pula kesejahteraan keluarga dalam bentuk keluarga kecil yang berkualitas (Henny, 2011).

  1. Metode kontrasepsi pria
  2. Senggama terputus (Coitus Interuptus)

          Metode ini dilakukan dengan cara menarik keluar penis dari vagina sebelum terjadinya ejakulasi, sehingga ejakulasi dilakukan di luar vagina. Metode ini kurang efektif dalam mencegah terjadinya kehamilan karena membutuhkan kesadaran yang tinggi dari pihak pria untuk melakukannya dan juga sebelum terjadinya ejakulasi pun bisa jadi sudah terdapat air mani yang keluar dan mengandung sperma.

  1. Kondomkondom

            Kondom telah dikenal sejak lama sebagai satu-satunya kontrasepsi yang selain dapat mencegah terjadinya kehamilan juga dapat mencegah terkena penyakit infeksi menular seksual seperti HIV/AIDS. Saat ini > 50 juta orang di dunia menggunakan kondom sebagai alat kontrasepsinya dan kondom juga sudah tersedia baik untuk pria ataupun wanita. Kondom merupakan alat kontrasepsi yang aman, murah, mudah tersedia, mudah digunakan dan tidak mempengaruhi kesuburan. Bagi orang yang mempunyai alergi terhadap kondom yang terbuat dari latex dapat menggunakan kondom yang terbuat dari bahan polyurethane.

  1. Vasektomi

            Vasektomi telah digunakan oleh 40 juta orang untuk perencanaan keluarga. Vasektomi merupakan cara yang cepat, sederhana, nyaman dan sangat efektif dalam hal sterilisasi secara permanen. Pria yang sudah tidak mau lagi mempunyai anak dapat memilih cara vasektomi ini, pada vasektomi saluran yang berfungsi untuk mengalirkan sperma (saluran vas deferens) akan dipotong, sehingga sperma tidak mengalir ke penis. Sedangkan bagian lainnya seperti testis dan penis tidak akan terpengaruh sehingga tidak akan menganggu gairah seksual dan proses ejakulasi.

  1. Pantang Berkala

Pantang berkala adalah tidak melakukan persetubuhan pada  masa subur istri.

Terdapat tiga cara dalam melakukan metode KB pantang berkala, yaitu:

a) Sistem kalender

Merupakan salah satu cara kontrasepsi alamiah yang dapat dikerjakan sendiri oleh pasangan suami-isteri tanpa pemeriksaan medis terlebih dahulu. Caranya dengan memperhatikan masa subur isteri melalui perhitungan haid. Masa berpantang dapat dilakukan pada waktu yang sama dengan masa subur dimana saat mulainya dan berakhirnya masa subur dengan perhitungan kalender.

b). Pengamatan lendir vagina

Metode ini merupakan metode pantang sanggama pada masa subur. Untuk mengetahui masa subur dilakukan  dengan cara mengamati lendir vagina yang diambil pada pagi hari. Metode ini dikenal sebagai metode ovulasi billing. Metode ini sangat efektif jika pasangan  suami isteri menerapkan dengan baik dan benar.

c). Pengukuran suhu badan

Pengukuran suhu badan merupakan salah satu metode pantang berkala pada masa subur. Untuk mengetahui masa subur dilakukan dengan cara mengukur suhu badan. Pengukuran dilakukan pada pagi hari, saat bangun tidur dan belum melakukan kegiatan apapun.

BAB III

PEMBAHASAN

Melalui  kesepakatan ICPD Kairo tahun 1994 terjadi perubahan paradigma baru program KB Nasional dari pendekatan pengendalian populasi dan penurunan  fertilitas lebih kearah pendekatan kesehatan reproduksi dengan memperhatikan hak-hak reproduksi dan kesetaraan gender. Konsep ini menerangkan bahwa  penanganan kesehatan reproduksi lebih luas meliputi pemenuhan kebutuhan kesehatan reproduksi individu baik pria maupun wanita sepanjang siklus hidupnya, termasuk hak-hak reproduksi  perempuan, kesetaraan gender, tanggung jawab pria dalam kaitan dengan kesehatan reproduksi keluarga. Tanggung  jawab pria dalam kesehatan reproduksi salah satunya adalah keikutsertaan dalam ber-KB (Endang, 2002).

Permasalahan yang timbul dalam kasus di atas dalah kurangnya partisipasi seorang suami dalam melaksanakan  KB langsung  sang suami merasa malas untuk  menggunakan alat kontrasepsi , sang suami juga  mengungapkan bahwa KB pada umumnya dilakukan oleh wanita, sehingga ia merasa tidak perlu ber-KB. Sang suami hanya berperan secara tidak langsung dalam  melakukan KB, dalam hal ini suami hanya mendukung istrinya untuk memilih dan menggunakan KB.  Terdapat 3 faktor utama yang mempengaruhi pria untuk tidak melakukan KB secara langsung yaitu faktor predisposisi (predisposing factors), faktor pemungkin (enabling factors), dan faktor penguat (reinforcing factors).

Faktor predisposisi merupakan faktor  anteseden terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi perilaku, yang termasuk ke dalam  faktor ini adalah pengetahuan, sikap, keyakinan, nilai, adat istiadat (budaya), dan persepsi, berkenaan dengan motivasi seseorang atau kelompok untuk bertindak. Faktor predisposisi sebagai preferensi pribadi yang dibawa seseorang atau kelompok ke dalam suatu pengalaman belajar. Preferensi ini mungkin mendukung atau menghambat perilaku sehat, dalam setiap kasus, faktor ini mempunyai pengaruh. Berbagai faktor demografis seperti status sosial ekonomi, umur, jenis kelamin, dan ukuran keluarga penting sebagai faktor demografis. Rendahnya partisipasi pria menjadi peserta KB sdisebabkan karena terbatasnya macam dan jenis alat kontrasepsi pria serta kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang hak-hak kesehatan reproduksi, kurangnya komunikasi sejak dini banyak  mempengaruhi sudut pandang yang keliru tentang seks dan keperkasaan pria, banyak pria yang beranggapan bahwa pemakaian alat kontrasepsi oleh pria akan mengganggu kenikmatan dalam hubungan seksual, anggapan  yang salah tentang peranan kaum pria dan kedudukan pria dalam keluarga membuat pria jarang yang mau berkonsultasi mengenai masalah reproduksi , seks, serta tingkah laku seksualnya. , adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB, kondisi sosial budaya masyarakat yang patrilinial yang memungkinkan kaum perempuan berada dalam sub ordinasi menyebabkan pengambilan keputusan dalam KB didominasi oleh kaum pria dan kondisi budaya juga menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan peran serta para suami dalam ber-KB, ada anggapan  bahwa anak laki-laki merupakan penerus marga, hingga sebelum ada anak laki-laki, keluarga akan terus “berproduksi” (BKKBN, 1999).

Faktor pemungkin adalah faktor antesenden terhadap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau aspirasi terlaksana, yang termasuk dalam faktor pemungkin adalah keterampilan dan sumber daya pribadi atau komuniti. seperti tersedianya pelayanan kesehatan, keterjangkauan, kebijakan, peraturan perundangan (BKKBN, 1999).. Dalam hal ini partisipasi pria yang rendah dalam melaksanakan KB dikarenakan  aksesibilitas pria terhadap sarana pelayanan kontrasepsi rendah, dimana Puskesmas hanya menyediakan pelayanan KIA yang umumnya melayani Ibu dan Anak saja sehingga pria merasa enggan untuk konsultasi dan mendapat pelayanan, demikian pula terbatasnya jumlah sarana pelayanan yang dapat memenuhi kebutuhan pria. Selain itu ada beberapa keterjangkauan yang masih terbatas yang dimaksudkan agar  pria dapat memperoleh informasi yang memadai dan pelayanan KB yang memuaskan masih rendah, keterjangkau itu meliputi:

  1. Keterjangkauan fisik

Keterjangkauan fisik dimaksudkan agar tempat pelayanan kesehatan lebih mudah menjangkau dan dijangkau oleh pria.

  1. Keterjangkauan ekonomi

Keterjangkauan ekonomi ini dimaksudkan agar biaya dapat dijangkau oleh klien. Biaya untuk memperoleh pelayanan menjadi bagian penting bagi klien, Biaya klien meliputi uang, waktu, kegiatan kognitif dan upaya perilaku serta nilai yang akan diperoleh oleh klien.

  1. Keterjangkauan Pengetahuan

Keterjangkauan pengetahuan ini dimaksudkan agar pria mengetahui tentang pelayanan KB serta dimana mereka dapat memperoleh pelayanan tersebut dan besarnya biaya untuk memperolehnya.

  1. Keterjangkauan Psikososial

Keterjangkauan psikososial ini dimaksudkan untuk meningkatkan penerimaan partisipasi pria dalam KB secara sosial dan budaya oleh masyarakat, provider, pengambil kebijakan, tokoh agama, tokoh masyarakat.

  1. Keterjangkauan Administrasi

Keterjangkauan ini dimaksudkan agar ketetapan administrasi medis dan peraturan yang berluka pada semua aspek pelayanan berlaku untuk pria dan wanita (BKKBN, 2005).

Faktor penguat merupakan faktor penyerta (yang datang sesudah) perilaku yang memberikan ganjaran, insentif, atau hukuman atas perilaku dan berperan bagi menetap atau lenyapnya perilaku itu, yang termasuk ke dalam faktor ini adalah faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan. Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tentu saja tergantung pada tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan pasien, penguat mungkin berasal dari perawat, dokter, pasien lain, dan keluarga. Apakah penguat ini positif ataukah negatif bergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang berkaitan, yang sebagian diantaranya lebih kuat daripada yang lain dalam mempengaruhi perilaku (BKKBN, 1999).

Program KB selama ini mengarahkan sasaran pada perempuan, sebagian masyarakat masih menganggap KB dan kesehatan reproduksi serta kesehatan ibu hamil merupakan urusan perempuan dimana keputusan untuk ber-KB, pergi periksa kehamilan, imunisasi bayi diserahkan pada kaum perempuan. Beberapa pertimbangan mengapa pria harus imbang terlibat dalam KB dan kesehatan reproduksi antara lain pria/suami merupakan pasangan dalam proses reproduksi, bertanggung jawab secara sosial, moral dan ekonomi dalam membangun keluarga, mempunyai hak-hak kesehatan reproduksi yang sama dengan perempuan. Keterlibatan pria dalam KB dapat diwujudkan melalui perannya berupa dukungan terhadap KB dan penggunaan alat kontrasepsi serta merencanakan jumlah keluarga. Partisipasi pria dalam KB dapat dilakukan dalam bentuk partisipasi langsung maupun tidak langsung.

Bentuk partisipasi pria dalam KB secara langsung dapat dilakukan dengan penggunaan alat kontrasepsi dan cara berkontrasepsi seperti penggunaan kondom, vasektomi, metode senggama terputus dan metode pantang berkala/ sistem kalender. Kondom merupakan salah satu alat kontrasepsi pria yang paling mudah dipakai dan diperoleh baik di apotik maupun di toko-toko obat dengan berbagai merek dagang, Penggunaan kondom berfungsi untuk membantu pria atau suami yang mengalami ejakulasi dini,kondom tetapi banyak pria yang merasa penggunaan kondom pada saat melakukan huubungan seksual menimbulkan ketidaknyamanan selain itu kondom juga terkadang meyebabkan gatal karena alergi terhadap bahan karet kondom. Vasektomi merupakan tindakan penutup (pemotongan, pengikatan, penyumbatan) kedua saluran mani pria/suami sebelah kanan dan kiri; sehingga pada waktu bersanggama, sel mani tidak dapat keluar membuahi sel telur yang mengakibatkan tidak terjadi kehamilan. Tindakan yang dilakukan adalah lebih ringan dari pada sunat atau khinatan  pada pria, dan pada umumnya dilakukan sekitar 15-45 menit, dengan cara mengikat dan memotong saluran mani yang terdapat di dalam kantong buah zakar. Kelebihan dari metode KB ini adalah efektivitasnya tinggi untuk mencegah kehamilan, tidak mengganggu hubungan seksual dan lebih aman, karena keluhan lebih sedikit jika dibandingkan dengan kontrasepsi lain, namun kendati memiliki kelebihan banyak pria yang tidak mau melakukan metode KB ini karena metode ini dapat mengurangi keperkasaan. Senggama terputus merupakan metode tertua di dunia, dan metode utama untuk menghindari kehamilan. Konsep metode senggama terputus adalah mengeluarkan kemaluan menjelang terjadinya ejakulasi sehingga sperma dikeluarkan di luar liang senggama. Kelebihan dari metode KB ini adalah tanpa biaya, tidak perlu menggunakan alat/obat kontrasepsi , tidak perlu pemeriksaan medis terlebih dahulu,  tidak berbahaya bagi fisik,  mudah diterima, merupakan cara yang dapat dirahasiakan pasangan suami-isteri, tidak perlu meminta nasihat pada orang lain, dapat dilakukan setiap saat tanpa memperhatikan masa subur maupun tidak subur, jika dilakukan dengan baik dan benar, namun metodi ini juga mengurangi keterbatasan seperti memerlukan kesiapan mental pasangan suami istri ,memerlukan penguasaan diri yang kuat ,kemungkinan ada sedikit cairan mengadung sperma tertumpah dari zakar dan masuk ke dalam vagina, sehingga dapat terjadi kehamilan, secara psikologis mengurangi kenikmatan dan menimbulkan gangguan hubungan seksual, Jika salah satu dari pasangan tersebut tidak menyetujuinya, dapat menimbulkan ketegangan, sehingga dapat merusak hubungan seksual dan metode ini tidak selalu berhasil. Pantang berkala adalah tidak melakukan hubungan suami istri pada saat masa subur istri. Metode ini memiliki kelebihan tanpa biaya, tanpa memerlukan pemeriksaan medis, dapat diterima oleh pasangan suami-istri yang menolak atau putus asa terhadap metode KB lain  dan melibatkan partisipasi suami dalam KB, namun metode ini juga memiliki keterbatasan seperti masa berpantang untuk sanggama sangat lama sehingga menimbulkan rasa kecewa dan kadang-kadang berakibat pasangan tersebut tidak bisa mentaati, tidak tepat untuk ibu-ibu yang mempunyai siklus haid yang tidak teratur, memerlukan waktu 6 sampai 12 kali siklus haid untuk menentukan masa subur sebenarnya (Endang,2002). Dengan berbagai metode yang ada seharusnya pria ikut serta dalam program keluarga berencana, dengan berbagai pertimbangan seperti  membantu istri  setiap saat baik untuk menunda kehamilan, mengatur jarak kehamilan dan mengakhiri kesuburan, menyadari jumlah anak dianggap cukup dan istri tidak cocok menggunakan jenis alat kontrasepsi apapun, empati terhadap istri dan tidak ingin menambah beban istri dengan bertambahnya jumlah anak, sebagai bukti suami sayang kepada istri dan bila istri tidak cocok dengan alat kontrasepsi apapun.

Bentuk partisipasi pria dalam KB secara tidak langsung adalah dengan cara  mendukung istri dalam ber-KB, apabila disepakati istri yang akan ber-KB peran suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB. Dukungan yang dapat diberikan adalah memilih kontrasepsi yang cocok yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya, membantu istrinya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB, dan mengingatkan istri untuk kontrol, membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi dari pemakaian alat kontrasepsi, mengantarkan istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan, mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaska, membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala (Azwar, 2005).

BAB IV

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Permasalahan yang timbul dalam kasus di atas dalah kurangnya partisipasi seorang suami dalam melaksanakan  KB langsung  sang suami merasa malas untuk  menggunakan alat kontrasepsi , sang suami juga  mengungapkan bahwa KB pada umumnya dilakukan oleh wanita, sehingga ia merasa tidak perlu ber-KB. Sang suami hanya berperan secara tidak langsung dalam  melakukan KB, dalam hal ini suami hanya mendukung istrinya untuk memilih dan menggunakan KB.

  1. Saran atau Rekomendasi
  2. Perlunya peningkatan KIE melalui paguyuban atau kelompok KB pria tentang alat kontrasepsi pria yaitu kondom dan metode KB vasektomi  untuk meningkatkan pengetahuan pria tentang alat kontrasepsi kondom dan metode vasektomi.
  3. Perlunya peningkatkan akses pelayanan KB dan KR (kesehatan reproduksi) pria dengan penyediaan tempat pelayanan KB dan KR pria yang dekat dengan tempat tinggal masyarakat.
  4. Kepedulian para pria/suami dalam KB dan kesehatan reproduksi secara mandiri perlu ditingkatkan, agar pembangunan SDM yang berkualitas dapat terbentuk melalui keluarga kecil, sehat dan sejahtera.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, 2005,  Kebijakan dan Strategi Nasional Kesehatan Reproduksi di

Indonesia. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat: Jakarta.

BKKBN, 1999 , Studi Gender Peningkatan Peran Pria Dalam Penggunaan

Kontrasepsi di DIY, Kerjasama Fakultas Kedokteran Univ.

Muhammadiyah-PUBIO BKKBN:  Jakarta.

BKKBN, 2005,  Peningkatan Partisipasi Pria dalam KB & KR, Jakarta.

Endang, 2002.   Buku Sumber Keluarga Berencana, Kesehatan Reproduksi,

Gender, dan Pembangunan Kependudukan, BKKBN & UNFPA: Jakarta.

Imamah, 2009, Perempuan dan Kesehatan Reproduksi, Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender, Vol.4(2): 199 – 206.

Purwanti, Henny, 2011, Upaya Peningkatan Partisipasi Pria Dalam Keluarga Berencana Dan Kesehatan Reproduksi Sebagai Wujud Kesetaraan Gender, Jurnal Argumentum, VOL.10(2): 153-169.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s